Entri Populer

Kamis, 02 April 2009

KETIKA AYAM MENJADI HARAM


Akhir tahun 2003, setelah lolos dari jeratan dosen-dosen di ITS penulis sempat menikmati kuliah di "University of Live", di kampus kehidupan itu penulis banyak mendapatkan banyak hal, termasuk kesadaran tentang kebodohan penulis yang ternyata sudah membatu.
Ketika penulis sempat duduk dalam suatu majelis, dengan pembicara 'Master' dari salah satu negara di jazirah (yang dulu disebut) Persia. Sang Master dalam obrolan ringan itu menggulirkan pertanyaan tentang halal dan haram.

" Secara dzahiriah, ayam itu halal dan babi itu haram, tetapi keadaan dzahir saja tidak cukup. Islam masih mengatur itu semua dalam aturan yang lebih detail.
Babi yang secara kebendaan sudah haram, maka disembelih oleh siapapun bahkan oleh seorang ustadz atau kyai pun akan tetap haram.
Ayam yang secara dzahir halal, pun dapat menjadi haram jika ia disembelih tidak sesuai dengan syariah. Tentu kita tidak ingin seuatu yang awalnya baik menjadi mudharat hanya karena kita tidak mau tunduk pada aturan.
Ternyata sesuatu yang baik saja tidak cukup, apalagi ketika itu berhubungan dengan peribadahan kepada Allah. Karena sesuatu yang awalnya halal bisa menjadi haram, hanya karena cara kita tidak sesuai dengan agama.
dan Ternyata niat baik saja tidak cukup untuk menghantarkan manusia mencapai kemuliaan di hadapan Allah. Semua harus manut sama tuntunan kanjeng Nabi. "

Penulis baru menyadari kalau selama ini terlalu banyak membela diri dengan alasan niat yang baik, dengan alasan niat yang ikhlas. padahal ke-ikhlasan saja tidak cukup untuk berbuat baik. Dua komponen penting selain Ikhlas adalah Istihlas, yaitu mengikuti jalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Alangkah kacaunya dunia ini jika setiap orang mencari pembenaran dengan niat kebaikan, karena niat yang baik tanpa tuntunan yang benar dapat menjadi mudharat.

Wallahu'alam bi sawab... Sungguh Allah lebih mengetahui ini semua.

Surabaya, 03 April 2009
08:46

Tidak ada komentar: